Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bersambung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2009

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 8




Musim terus berlalu, waktu berganti cepat dan usia bertambah tak bisa ditolak. 5 tahun sejak pertemuan terakhirnya dengan cinta pertama, dan Salwa tak pernah bisa melupakannya.

Hidup Salwa telah berubah, 5 tahun kemarin Salwa seperti tak mengenali dirinya
Segalanya hampa. Salwa tak mampu menghapus kesedihannya dengan mudah. Salwa hancur berkeping-keping. Beberapa cinta telah dia coba hinggapi, tapi aaahh Salwa tak pernah benar-benar mengharapkan mereka. Salwa salah apa jika dia memang bukan seorang wanita yang gampang jatuh cinta?

Semuanya labil, kadang Salwa bisa menjadi amat sangat introvert dan pemalas, kadang pula Salwa bisa menjadi amat sangat ekstrovert dan optimis. Salwa semakin susah untuk dimengerti, tapi Salwa sekaligus bisa menjadi orang yang sangat dewasa dalam mengerti orang lain, kecuali COLLIN!

***

2009 Musim dingin di Eropa, membuatnya tersenyum-senyum simpul dalam buaian ranjang ayun yang begitu hangat dan nyaman. Di dalam ruangannya Salwa kembali memutar memorinya seperti pita kaset yang panjang dan lancar berputar pelan dan pasti.

Sekitar 8 tahun yang lalu, Salwa mengetahuinya. Gadis manis pucat yang pernah berdiri dalam senyum kemenangannya di samping Collin adalah Martha kekasih yang sekaligus calon istri Collin.

Hari itu dengan berurai air mata pedihnya, Salwa kembali ke taman yang sama. Di hari itu, ingin rasa hati Salwa membunuhnya, membunuh gadis imut yang ringkih itu demi cintanya. Setelah mengatur pertemuan tanpa didampingi bodyguard-bodyguardnya. Salwa, Martha dan Collin berhadap-hadapan dalam suasana senja yang beku dan mencekat.

Tapi alih-alih mencaci maki dan bersaing dengannya, Salwa hanya terbahak-bahak demi mendengar

“Salwa mengertilah, aku Martha, aku mencintainya dan aku yakin aku lebih membutuhkannya daripada kamu”
“Kamu tahu apa soal perasaanku”
“Aku mohon Salwa, bolehkah ku pinjam Collin selama….selama..se..seumur hidupku”
“HEH cewek sialan, kau pikir dia barang bisa di sewa-sewakan!”

Dalam emosinya yang tak terbendung, Salwa mencengkram tangan Martha. Larut dalam kesedihannya Salwa menarik rambut tipis Martha, mencakar wajah manis Martha, beringas, emosi dan air mata bercampur melarutkan rintihan lirih dari bibir Martha yang tak berdaya….

Dan Collin hanya terpaku, bergeming…

***

Waktu berlalu tak bisa di putar ulang, esok harinya Salwa baru tahu. Martha gadis manis pewaris tunggal kekayaan Pak Risyad Arthadiningrat, menderita leoukimia. Terhitung dari tanggal perjanjian pra nikah Collin dan Martha, umur Martha hanya diperkirakan bertahan maksimal sampai 2 tahun saja. Ajaibnya, semenjak Collin berada disisinya Martha mampu menjalani 2 bulan bonusnya dari Tuhan. Tapi tidak setelah aksi brutal Salwa terhadapnya.

Martha pergi dengan membawa cinta dan misteri dalam kedamaian, berhenti berjuang meraih bahagia, berhenti menghembuskan nafas cintanya. Tidak lagi meminta Colin menemaninya, tidak lagi memohon Salwa merelakan Collin untuknya, Tidak untuk hari ini, esok dan seterusnya. Martha menerimanya dengan ikhlas, dan mencabut infus, alat bantu pernafasan dan segala tetek bengek yang membantunya hanya untuk sebuah kata ‘HIDUP’. Martha hanya ingin istirahat dari kelelahan panjang yang menyedihkan.

Collin mempertanggung jawabkan pilihannya. Bahkan tak berniat untuk kembali pada pujaan hatinya, Salwa.

Salwa, mmm tidak serta merta menjadi gila, hanya saja tak ada yang lebih menarik lagi baginya kecuali ranjang gantungn dan ocehan dokter terapis lengkap dengan cemilan pil-pil anti depressant yang membantunya tidur nyenyak dan bebas dari bayang-bayang Martha.



Based on true story…

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 7




Beberapa tahun yang lalu, Salwa akan sangat bersemangat menjejakkan kakinya di tanah perumahan mewah ini.

Salwa mengagumi setiap desain bangunannya yang artistik, pilihan warna catnya yang dinamis, bahkan suasananya yang bersahabat, seperti wujud mimpinya di salah satu negara bagian Eropa. Tapi lebih dari semua alasan itu, Salwa tau dilingkungan inilah degup jantung Salwa seolah menemukan tambatannya.

Perumahan Cepiring No. 5, lekat betul alamat ini di memorinya. Meski belum pernah masuk ke dalamnya, Salwa tau itu rumah keluarga besar Collin. Ah.. Collin bukankah hanya sebuah nama di sepenggalan kisah lalu?

“Asyiikkk…taman itu kebetulan kosong”
“Yuukkkssss”

Beramai-ramai mereka menyerbu taman kota yang sama sekali tidak diperuntukkan bagi masyarakat luar seperti mereka. Dari dalam kantong tas masing-masing, sekelompok remaja putri itu mengeluarkan berbagai macam snack dengan berbagai rasa dan merk.

Ohoho mereka berpiknik ria. Berkumpul, bercanda, makan-makan, kongkow-kongkow..bukankah tak ada yang lebih asyik dari itu?

Namun keasyikan ini tak bertahan lama ketika beberapa mil dari mereka terlihat sekelompok orang menghampiri sambil menunjukkan wajah kurang simpatinya.

“Hey..apa yang kalian lakukan disini hah?” tanya salah satu dari mereka
“Oh Anda tidak melihat kami sedang having fun, Om?”
“Aha, jadi kalian warga sini?”
“mm..sama sekali bukan, memangnya kenapa”
“Semua di dunia ini ada prioritasnya sayang, sana minggir”
“Emang kalian siapa, maunya apa si, main ngusir-ngusir aja?”
“Nona muda kami sedang ingin bersantai disini, tanpa ada gangguan dari orang-orang seperti kalian”

Dibalik 3 pria dewasa itu, Salwa melihatnya. Seorang gadis cantik, yang agak pucat dengan ditemani seorang pemuda tanggung yang cukup menawan dalam balutan sweeter beige yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Dan Salwa tak akan pernah melupakannya, rambut hitam pendek lurus yang tersisir rapi dengan beberapa helai yang terjulur indah alami di sekeliling dahinya…

Oh Tuhan…Collin kah itu. Kenapa Collin menggandeng tangannya, kenapa Collin melindunginya seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi?

TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 6




2 Pekan sebelum ujian kelulusan, keluarga Collin mengalami kerugian, semuanya terancam. Bahkan sekolah Collin. Semuanya berimbas pada kejatuhan nilai Collin, kegagalan tes masuk sekolah Collin. Karena semuanya di bebankan padanya..

Ya di atas sebuah perjanjian tak tertulis, keluarga Collin berhutang budi kepada keluarga Om Risyad yang kaya raya, Collin dijadikan jaminannya. Collin harus diikat oleh komitmen dengan putri semata wayang Om Risyad, bahkan di usia yang masih amat sangat belia.

Tentu saja Salwa tidak mengetahui ini semua, tidak. Collin tak mungkin memberitahunya. Collin tidak akan pernah tega menghancurkan hatinya.

Informasi yang sampai ke telinga Salwa hanya mengatakan, Collin gagal ujian dan tes masuk sekolah. Hal ini yang memisahkan mereka. Dan Collin terpaksa melanjutkan sekolahnya di tempat yang jauh dari Salwa, di salah satu sekolah swasta yang sama sekali tidak popular, di tengah kota.


***

Hujan dari pagi pun tak menyurutkan langkah Salwa untuk berkunjung ke perpustakaan favoritnya.

“Bukankah ini malam minggu Salwa?”
“Iya, Bibi…kenapa?”
“Nak, kamu sudah cukup dewasa. Kau tahulah apa yang Bibi maksud”
“Ah..Bibi, Salwa sibuk Bi. Nggak ada waktu untuk memikirkan hal itu”
“Ayolah, sana cepat pergi. Bibi hadiahkah buku tebal itu untukmu selama 7 hari. Kau boleh mengembalikannya Sabtu depan”
“Bibi apa-apaan si..Salwa masih betah disini, banyak banget buku yang belum Salwa baca”
“Sudah sana, Bibi mau tutup perpustakaannya. Rak sebelah kanan itu sudah tidak pernah kamu sentuh, artinya yang belum dibaca tinggal pojok ini aja kan?”
“Ah..Bibi”

***


Sudah 2 tahun semenjak hari pertamanya masuk SLTP dan sekarang Salwa sudah banyak berubah. Masih cantik dan berprestasi, masih hobi membaca, dan bercita-cita untuk pergi ke Eropa suatu hari nanti, dengan Collin mungkin hihihi. Tapi Salwa jadi semakin tomboy, semakin kurang peduli dengan penampilannya. Mulai meninggalkan hobi seninya. Mulai berteman dengan tim Basket yang rame itu. Dan mulai mengalami fase metamorfosisnya sebagai perempuan dewasa yang labil dan sedang mencari jati diri.

Pulang dari perpustakaan, Salwa melangkahkan kakinya ke lapangan basket. Tempat nongrong teman-teman setimnya. Tapi hari ini mereka tidak bisa berlatih, karena ternyata pelatihnya berhalangan datang.

“Yahh, bete banget siyy. Trus kita ngapain dong” Lina mulai bete
“Ya udah, kita jalan-jalan aja yukkk, kan kita semua jomblooo”
Seruan Dian langsung ditanggapi dengan sorak ramai ke 15 remaja putri itu
“SETUJUUU”

Ah remaja putri, bukankah mereka selalu punya rencana-rencana menarik…


TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 5





Malang, 07.30 WIB
Upacara Penerimaan Siswa Baru


Salwa ada disana, bertugas sebagai dirijen yang memandu paduan suara. Belum apa-apa Salwa sudah terpilih sebagai salah satu petugas upacara. Membelakangi tembok pembatas area sekolah dan kebun apel..

Sebuah titik, yang semakin lama semakin jelas berjalan ke arah pagar pembatas, tak salah lagi, dengan rambut lurus pendeknya yang tergerai indah, badan tinggi tegap semampai…itu Collin!

Hampir semua alumni SD Unggulan temen sekelas Salwa melihatnya, itu Collin! Tapi kenapa dia ada di luar pagar pembatas sekolah?

***

Upacara berjalan lancar. Sampai semua bubar Collin masih berada di luar pagar pembatas. Collin menunggu, dia menunggu sampai Salwa membalikkan badan dan melihatnya.

Lama, ketika upacara selesai, akhirnya apa yang diharapkan Collin terkabul. Salwa melihatnya! Oh Tuhan, jantung Collin serasa mau copot, Salwa tampak makin cantik saja dalam balutan busana petugas upacaranya yang serba putih.

“Salwa, ini aku!”

Salwa melihatnya tapi hanya sekilas, dan Salwa meyakininya sebagai fatamorgana..
Hanya sekilas dan Salwa tak pernah mengarahkan pandangannya ke titik yang sama lagi..

“Salwa, kau melupakanku?”
Bisik lirih Collin dalam hati..

Lapangan mulai sepi, Collin terduduk lesu di pinggiran pagar, sementara Salwa sibuk membantu petugas yang lain merapikan peralatan upacara.

***


“Salwa, tahukah kau tadi Collin ke sini, dia ada di luar pagar pembatas itu” evy menunjuk arah yang tadinya ditempati Collin
“Oh sudahlah, jangan menghiburku Vy”
“Semua orang melihatnya kok”
“Hah..kenapa kamu tidak bilang dari tadi, evy?”
“Oh Tuhan, Salwa..Salwa”

Seraya berlari ke arah yang ditunjuk Evy, Salwa memanggil-manggil nama Collin.
Sekali lagi pertemuan mereka seolah tak di ridhoi, terlambat, Collin sudah melangkahkan kakinya menjauhi pagar pembatas sekolah..

“COLLIIIIIIIIIINNNN………”
Salwa menangis sejadi-jadinya, kenapa begini….
Kemudian hari, Salwa baru mengetahui jawabannya.

TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 4




Mobil Mercy metallic itu meluncur pelan membelah jalanan lengang, Salwa ada didalamnya bersama 2 siswi peraih NEM tertinggi lainnya. Duduk di belakang kemudi adalah Bu Pipit Kepala Sekolah bersahaja, yang dengan suka cita mengantar Salwa untuk mendaftar di sekolah lanjutan paling unggulan di kota itu.

Salwa belum tau pasti berapa NEM yang diperoleh Collin, hanya saja hati Salwa mengatakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Tanpa babibu, petugas pendaftaran tersenyum mantap dan menyalami tangan Salwa,
“Selamat, kamu jadi siswi SLTP ini tanpa tes dan pasti GOAL!”
“Terima kasih ibu”

Selesai sudah, hanya sampai disinikah?
Entah kenapa Salwa begitu sedih hari ini, padahal moment ini dia harapkan dari sekitar 2 tahun yang lalu. Masa di mana dia memasuki sekolah baru, lingkungan baru, tapi tanpa Collin semuanya terasa tidak ada gunanya.

***

Sesampai di rumah Salwa melempar tubuhnya yang mungil di kasurnya yang mini dan minimalis. Ya Salwa bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, sehingga semua yang Salwa dapatkan segalanya setelah melewati proses berbagi dan turun-temurun dari kakak-kakaknya.

“Nak, tadi Pak Alvan datang menawarkan beasiswa lo”

Ibu Salwa menyambut dengan hangat penuh nada kebanggaan
“Ibu, Salwa udah didaftarin sama Ibu kepala Sekolah Di SLTPN 03. Maaf ya Bu, Salwa janji nanti Salwa akan cari beasiswa lagi”
“Nggak papa, Ibu terserah kamu aja. Ibu yakin kamu nggak akan mengecewakan Ibu kan?”

Salwa hanya tersenyum dan berdoa
“Semoga Ibu, hanya saja tanpa Collin semuanya jadi terasa agak berat..”


TO BE CONTINUE

Jumat, 27 Februari 2009

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 3



Prestasi Salwa dan Collin selalu menjadi buah bibir di kalangan pelajar SD, di usia-usia yang serba ingin tahu ini, mereka dibuat pusing dan penasaran oleh kata yang bunyinya
“cinta”

Dan pandangan akan pasangan ideal yang pernah mampir di sebagian besar benak mereka adalah hubungan Salwa dan Collin.

Salwa sudah 2 musim kompetisi ini mengantongi juara tari, juara Cerdas Cermat, juara melukis, juara tarik suara, bahkan di Ujian Akhir Nasional kelas 6 ini pun Salwa lulus sebagai siswa peraih Nilai NEM tertinggi…duh dimana ya letak kekurangannya?

Hmm…Collin? Collin juga memenangkan berbagai juara, tapi sayang Collin tidak seberhasil Salwa di ujian tingkat terakhirnya ini. Kenapa?
Collin berasal dari keluarga terpandang yang sangat berkecukupan, namun karena suatu hal, kondisi keluarga Collin tiba-tiba saja merosot tajam. Collin yang belum cukup dewasa untuk memahami ini semua turut merosot prestasinya.

Hasil ujian Collin? Mm…lulus sih tapi mepet standar bawah, yang artinya Collin tidak akan diterima di salah satu SLTP unggulan di kota Malang, kecuali terjadi sebuah keajaiban.

***
Hari ini Pesta Kelulusan, Collin datang terlambat. Dalam suka citanya Salwa bertanya-tanya..
“Dimana Collin?”

Ya waktu telah berlalu begitu cepatnya, semua berubah kecuali perasaan Salwa dan Collin yang semakin tumbuh subur tak terkendali. Bagai pohon beringin yang tumbuh seiring bertambahnya usia mereka dan menjadi saksi kenakalan maupun prestasi siswa-siswi SD Unggulan ini.

“Oh..Collin pliss dateng dong, ini kan hari terakhir kita sekelas” Bisik lirih Salwa yang terbawa angin sepoi musim hujan.

Pesta kelulusan hampir berakhir, ketika di kejauhan pintu gerbang belakang sekolah, Collin datang tergopoh-gopoh dengan muka yang agak kacau.

Saat yang sama, Salwa melambaikan tangan haru kepada guru-guru tercinta dan almamaternya yang menoreh banyak kenangan…
“Aku akan pergi, Collin meski aku tak pernah mengatakannya padamu, aku yakin kau tahu. Aku menyukaimu dan aku harap kau bisa membaca pikiranku sehingga saat ini kau tahu apa yang harus kau lakukan…”

Doa Salwa dalam tiap langkah kecilnya yang semakin lama semakin jauh meninggalkan sekolah…

TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 3



Prestasi Salwa dan Collin selalu menjadi buah bibir di kalangan pelajar SD, di usia-usia yang serba ingin tahu ini, mereka dibuat pusing dan penasaran oleh kata yang bunyinya
“cinta”

Dan pandangan akan pasangan ideal yang pernah mampir di sebagian besar benak mereka adalah hubungan Salwa dan Collin.

Salwa sudah 2 musim kompetisi ini mengantongi juara tari, juara Cerdas Cermat, juara melukis, juara tarik suara, bahkan di Ujian Akhir Nasional kelas 6 ini pun Salwa lulus sebagai siswa peraih Nilai NEM tertinggi…duh dimana ya letak kekurangannya?

Hmm…Collin? Collin juga memenangkan berbagai juara, tapi sayang Collin tidak seberhasil Salwa di ujian tingkat terakhirnya ini. Kenapa?
Collin berasal dari keluarga terpandang yang sangat berkecukupan, namun karena suatu hal, kondisi keluarga Collin tiba-tiba saja merosot tajam. Collin yang belum cukup dewasa untuk memahami ini semua turut merosot prestasinya.

Hasil ujian Collin? Mm…lulus sih tapi mepet standar bawah, yang artinya Collin tidak akan diterima di salah satu SLTP unggulan di kota Malang, kecuali terjadi sebuah keajaiban.

***
Hari ini Pesta Kelulusan, Collin datang terlambat. Dalam suka citanya Salwa bertanya-tanya..
“Dimana Collin?”

Ya waktu telah berlalu begitu cepatnya, semua berubah kecuali perasaan Salwa dan Collin yang semakin tumbuh subur tak terkendali. Bagai pohon beringin yang tumbuh seiring bertambahnya usia mereka dan menjadi saksi kenakalan maupun prestasi siswa-siswi SD Unggulan ini.

“Oh..Collin pliss dateng dong, ini kan hari terakhir kita sekelas” Bisik lirih Salwa yang terbawa angin sepoi musim hujan.

Pesta kelulusan hampir berakhir, ketika di kejauhan pintu gerbang belakang sekolah, Collin datang tergopoh-gopoh dengan muka yang agak kacau.

Saat yang sama, Salwa melambaikan tangan haru kepada guru-guru tercinta dan almamaternya yang menoreh banyak kenangan…
“Aku akan pergi, Collin meski aku tak pernah mengatakannya padamu, aku yakin kau tahu. Aku menyukaimu dan aku harap kau bisa membaca pikiranku sehingga saat ini kau tahu apa yang harus kau lakukan…”

Doa Salwa dalam tiap langkah kecilnya yang semakin lama semakin jauh meninggalkan sekolah…

TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 2



Turnamen bola basket kali ini kebetulan berbarengan dengan acara lomba tari tingkat Propinsi.

Ya siapa lagi yang jadi andalan sekolah selain Salwa dan Collin, kali ini masing-masing merasa gelisah. Salwa akan berada di puncak Bumi Aji yang dingin sepanjang minggu, sementara Collin akan berada di lembah, lapangan basket yang panas sepanjang musim turnamen.

Keduanya sama-sama merasa khawatir, namanya juga monyet-monyetan, artinya akan dengan sangat mudahnya hati melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Disinilah kesempatan dan peluang terbuka lebar, pertukaran pelajar dari sekolah satu ke sekolah lain. Collin khawatir wajah dan perangai Salwa yang demikian menawan akan sangat mudahnya menarik perhatian cowok-cowok ganteng di sekitarnya, pun sebaliknya dengan Salwa.

Tapi sekali lagi keduanya memilih diam, dan berangkat dengan kepala tertunduk dan pipi bersemu-semu merah..
“Semoga berhasil ya..” sepenggal kalimat yang diucapkan berbarengan.

Ah anak-anak, lucu dan menggemaskan sekali sikap mereka. Hal ini yang terpikir di benak para guru pendamping.
***

Bersama Salwa berangkat juga Wiwi dan Ratna. Ketiganya diberangkatkan dan dilatih di sebuah mass bersama beberapa siswi sekolah lain yang tak kalah cantik dan berprestasinya.

Semakin hari latihan ini semakin mudah bagi Salwa, semua gerakan di hapalnya di luar kepala. Bahkan dalam setiap gerakannya, Salwa larut dalam denting dan pukulan gending yang mengiringinya. Tanpa disadari banyak mata terarah padanya, antara kagum, iri, sebal semua membaur jadi satu dalam tiap butiran tetes keringat di dalam studio tari itu.

Baru setengah jalan, guru tari meminta Salwa berhenti..
“Kamu, mulai hari ini gantikan saya di depan. Jadi sekaligus beri contoh bagi yang lain dan Bapak akan mengoreksi gerakan tari yang masih banyak salahnya”

Tanpa disadari statement satu ini membuat hati para cewek manis di belakang punggung Salwa panas dan merasa kalah. Ya ini memang kompetisi, tapi Salwa memang menetapkan batasan yang cukup tinggi untuk mereka lampaui.

***
Collin bagaimana? Hmm..tak jauh beda dengan Salwa. Setiap pukulan Collin membuahkan sorak sorai pemandu sorak dan penonton yang didominasi cewek-cewek baik dari sekolah Collin maupun dari sekolah lain.


TO BE CONTINUE

FIRST VS LAST LOVE in EUROPE

CHAPTER 1




Salwa 11 tahun, gadis manis itu emang baik, cantik, lembut dan pinter, bintang kelas dari kelas 1 ampe kelas 5 SD. Duduk disampingnya itu banyak yang bilang namanyanya Collin, duh emang cowok yang cakep banget sih, sporty, manis, baik, dan dari bahasa tubuhnya keliatan banget dia sayang sama Salwa.

Mungkin itu alasannya kenapa tiap kali pindah kelas baru, Collin selalu duduk di samping bangku Salwa. Memang bukan hal yang aneh sih, cewek seperti Salwa akan sangat mudah mengambil hati para pejuang cinta..hihi tapi lucu juga kalo anak-anak SD ini berebut cinta Salwa dan Collin.

Tapi dua hari ini Salwa tak keliatan beredar di area sekolah, ada apa ya?
Hampir semua guru menanyakannya, Bu Diah, Bu Nurleli, Pak Tris ah banyak banget deh yang perhatian sama Salwa, bikin iri kaum hawa yang lain aja. Liat itu di pojokan kelas ada Desi, Utami, Tuty, Lina bahkan sahabat sekaligus saingan Salwa si Ratna ikut berkasak-kisik soal Salwa…

“Ah pasti alasan aja tuh, biar diperhatiin”
“Iya, biar dijenguk”
“Mang dia sakit?”
“Hooh, gosipnya sih hari sabtu pulang sekolah di Andy nyegatin Salwa gituh pas mo pulang, kebetulan hari itu dia nggak bareng evy. Nah gerombolan si Andy kan emang suka dari dulu tuh ama Salwa, mereka mo gangguin gitu deh…”
“Trus..truuss”
“Ya udah, pas lagi berniat ngebela diri gitu si Salwa nggak sengaja keinjek jarinya ama si Hadi, itu temen Andy yang badannya gede banget itu lo”
“Udahlah jempolnya Salwa bengkak, nggak bisa nulis dia”
“Eh tau-tau Collin dateng tuh ngebelain gitu critanya”
“Halah, sinetron banget siy”
“Ah gw heran ama cowok-cowok disini, kenapa pada suka ama Salwa. Toh kita-kita juga nggak kalah hebat iya nggak?

“TENG..TENG..TENG….”

Bel sekolah berbunyi, seperti di komando masing-masing kelompok membubarkan diri dan kembali ke kursi masing-masing.

Yah bukan rahasia lagi memang, bahkan tanpa ikatan komitmen yang jelas ala cinta monyet
“kamu suka nggak sama aku, berarti kita jadian dong..”
Tapi bahkan Salwa dan Collin pun menyadari mereka punya rasa saling memiliki yang sedemikian kuat…

TO BE CONTINUE