Tampilkan postingan dengan label Legenda Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2009

Sumatera Utara (Danau Toba)

Legenda Danau Toba-Sumatera Utara
Diceritakan kembali oleh Icha Affandy




NgngnggNGNGNGNGNGNGNG! HAP! SLURP!

Di tepi sebuah danau, di sela sesemakan yang rimbun dan lembab.
Seekor katak kecil dan gemuk menikmati santapan malam untuk yang kelima kalinya.

“Hohoho, ayolah Nak berhentilah makan sebelum nyamuk-nyamuk gemuk itu membuatmu muntah kekenyangan..”Kata Ibu Katak
“Ah ibu, ini baru yang kelima, perutku ini mampu memuat berpuluh-puluh nyamuk dalam sehari”jawab anak katak
“Hohoho, melihatmu begitu gembul Ibu jadi teringat sebuah cerita tentang danau ini”kata ibu katak
“Apa itu Bu?”Tanya anak katak
“Ayolah sini, berbaringlah di kedua kaki ibu dan ibu akan mulai bercerita untuk mengantar tidur nyenyakmu”kata ibu katak


Plung…
Terdengar suara lemparan kail. Ya disana, ditepi sungai berair jernih di kaki bukit, tampak seorang pemuda sedang asyik memancing bersama anjing setianya.

Tidak seperti biasanya, hari ini selesai sarapan, Ia hanya ingin memancing dan bersantai. Toh tidak setiap hari ia harus mengerjakan ladang. Kalo beruntung, makan siang dengan lauk ikan bakar pasti akan sangat nikmat! Hmm…

Setelah beberapa saat menunggu dengan sabar, terasa sesuatu memakan umpannya. Nah ini dia makan siangku, pikir pemuda itu.

Perlahan dan kuat ditariknya tongkat pancing..
TARRAAAA…seekor ikan besar bersirip indah menggelepar-gelepar tak berdaya!
Makan siang yang sempurna. Pikir pemuda itu

Dengan perasaan puas dan langkah ringan, pemuda itu pulang ke pondok kecilnya
yang nyaman. Sesampai dirumah Ia baru teringat dia harus ke pasar untuk membeli beberapa bumbu dan sayuran.

Sebelum pergi ia berpesan agar anjingnya menjaga pondok.

Tak seberapa lama, pemuda itu kembali dari pasar dengan membawa belanjaan. Tapi sesampai di pondok ia terkaget-kaget melihat sisik dan sirip ikan bertebaran dilantai.
“Siapa yang mencuri ikanku!”. Teriak pemuda itu dengan penuh amarah
Oh ya ya, sepertinya dia tau siapa pelakunya.

Di halaman pondok ia melihat anjingnya yang bermain sambil menjilat-jilati kakinya. Tanpa berpikir panjang ditendangnya anjing piaraannya itu.

“Dasar anjing pencuri..”
Kaing! Kaing! Teriak anjing itu kesakitan.

“Berhenti! tolong jangan sakiti anjing tak berdosa itu”
Terdengar suara lembuat perempuan dari dalam pondok.

Terkaget-kaget pemuda itu, demi melihat seorang gadis cantik berdiri anggun dalam pondoknya, pemangdangan yang sangat kontras mengingat kondisi pondoknya yang kotor dan tampak usang.
“Siapa kamu, apa yang kamu lakukan dalam pondokku” Tanya pemuda itu penuh selidik
“Aku adalah ikan yang berhasil kamu tangkap” jawab gadis itu
“Tolong beri kesempatan aku untuk hidup, dan aku akan mengabdi sepenuhnya kepadamu” lanjut gadis itu penuh harap
“Tuhan mengatur agar kita berjodoh. Maka jika kau ijinkan, aku akan menjadi istri yang baik bagimu. Tetapi dengan satu syarat. Jangan pernah berkata bahwa aku adalah ikan”

Setelah berpikir lama akhirnya pemuda itu menyetujui usul dan syarat itu. Maka mereka menjadi suami istri yang bahagia.

Beberapa bulan kemudian sang istri mengandung, makin lengkaplah kebahagiaan mereka dengan hadirnya sang buah hati.

9 bulan kemudian sang istri melahirkan seorang bayi laki-laki lucu. Jadilah mereka Bapak dan emak yang bahagia, karena dianugrahi bayi lucu yang sehat dan kuat.

Beberapa tahun kemudian sang bayi tumbuh menjadi bocah kecil yang kuat. Makan dan minumnya banyak. Sayangnya ia kurang suka membantu orang tua.

Namun Bapak dan emaknya memaklumi hal ini karena dia masih kecil.

Semakin bertambah usia anak mereka, kebutuhan makanannya pun semakin banyak. Sangat banyak bahkan. Kadang-kadang karena masih terasa lapar ia mencuri jatah emak atau bapaknya.

Melihat hal ini lama-lama Bapak jadi geram.

“Kerjamu hanya makan dan tidur, lalu kapan kamu bisa membantu emak dan bapakmu ini?” Tanya Bapak sebelum berangkat kerja
“Sudah Pak, nanti juga dia akan membantu. Iya kan Nak” kata emak menenangkan
“Nggak ah Mak. Bagaimana aku bisa kerja kalo aku selalu lapar” jawab anaknya lugu

Bapak semakin marah mendengar jawaban anaknya. Dengan kesal ia berangkat ke ladang. Sementara Emak hanya tersenyum menahan kesedihannya.

Wajar seekor anak ikan makannya banyak. Batin emak

Hingga suatu hari Emak meminta tolong pada anaknya untuk mengantar bekal makan siang Bapak yang tertinggal..
“Tolong Nak antar makanan ini buat Bapak. Kasihan Bapak pasti lapar” pinta Emak dengan lembut
“Baiklah Mak” Jawak si Anak menyanggupi
Siang mulai terik. Si Anak berjalan pelan diantara bayangan pohon rindang.”
“Wah aku haus sekali”
Karena merasa sangat haus, anak itu meminum air dari bekal Bapak. Perjalanan masih jauh namun perutnya sudah terasa lapar..
“Kriuk..kriuk”
Diliriknya bekal Bapak sambil bepikir..
“Kalo aku makan sebagian Bapak pasti mengerti kalo aku sangat lapar” ujarnya

Tanpa pikir panjang dibukanya bekal Bapak. Mulailah dia memakan dengan lahap. Saking lahapnya tak terasa bekal Bapak tandas dimakannya.

“Waduh, bagaimana ini Bapak pasti marah”
Si anak tak berani ke ladang, akhirnya dia malah pergi bermain saja.

Sementara di ladang, Bapak yang kelaparan akhirnya pulang. Dirumah ditemuinya Emak yang langsung di dampratnya.

“Kenapa bekal Bapak tidak Emak antarkan?!” Tanya Bapak emosi
“Aku minta tolong anak kita mengantarkannya..” jawab Emak terheran-heran
“Mana! Udah siang begini Bapak belum makan apa-apa sama sekali!” jawab Bapak
“Oh Tuhan, kemana anak itu?” Emak balik bertanya dengan khawatir

Bapak memutuskan mencari anaknya. Hingga di sebuah tanah lapang dilihatnya si anak tengah asyik bermain dengan kerbau. Sementara di sampingnya, Bapak melihat bakul kosong tergeletak.

Melihat hal itu Bapak Emosi. Tanpa pikir panjang dihampiri dan dimarahinya si anak.
“Heh sini, CEPAT!” teriak Bapak memanggil
“Ba..Bap..Bapak..” jawab anak ketakutan
“Mana Bekal Bapak! Hah ayo jawab!”
“Dasar anak Ikan! Anak tidak berbakti, bikin orang lain khawatir saja!.. Kau biarkan Bapakmu ini kelaparan hah. Maumu apa?!”. Tanpa sadar Bapak melanggar janji yang selama ini selalu dia pegang.

Mendengar kata-kata bapaknya. Si Anak sedih seraya berlari pulang sambil menangis tersedu-sedu menemui ibunya..

“Hikhik. Emak…apa benar aku ini anak ikan mak?” Tanya si anak sambil menangis
“Siapa yang berani berkata begitu padamu Nak?” Tanya Emak terkejut
“Bapak, Mak. Bapak sangat marah dan membenciku”

Mendengar jawaban anaknya, Emak hanya tertunduk lesu. Ikut menangis dan menggandeng tangan anaknya..
“Ayo nak, kita harus pergi dari sini. Kita memang berasal dari ikan dan karena Bapak melanggar janjinya maka kita akan kembali menjadi ikan.”

Bapak yang menyadari kesalahannya. Berlari pulang. Mendapati anak dan istrinya tidak ada, Bapak berteriak-teriak..
“Maafkan aku, maafkan aku, jangan tinggalkan aku…KEMBALI!”

Namun, janji adalah janji. Emak juga tidak bisa berbuat apa-apa. Seketika langit gelap. Kilat menyambar-nyambar. Hujan badai menumpahkan berton-ton air yang menenggelamkan halaman dan ladang. Genangan air makin tinggi. Mengubah lembah menjadi danau yang sekarang dinamai Danau Toba.

Emak dan anak kembali jadi ikan. Mereka hidup berdua menjaga danau Toba.


“Hoahm…Ibu hebat. Ceritanya seru. Mungkin aku akan mulai jadi anak berbakti dan tidak makan berlebihan lagi.” Kata katak kecil sambil terkantuk-kantuk
“Tidurlah Nak. Bagaimanapun tingkah seorang anak, kasih sayang ibu tidak akan ada habisnya. Selamat tidur, sayang”

BaLi - Bulan Pejeng

Cerita Rakyat

Saking kepengennya ke Bali dan belum keturutan juga, jadi sementara kita wujudkan obsesi ini dengan mengulak alik cerita rakyat nya...hehe





Bulan Pejeng (BALI)
Diceritakan kembali oleh Icha Affandy


Menurutmu kenapa Bali begitu cerah?
Hawanya gerah,
Pemandangannya begitu indah.
Jika menurutmu itu tercipta begitu saja, mungkin kamu salah..

Dengarkanlah
Karena angin malam sering menghembuskan kisah…….






Pulau Bali bukanlah tempat tinggal yang aman kala itu. Banyak pencuri yang bersembunyi di antara semak-semak di lereng gunung.
Setiap malam penduduk desa merasa was-was, berharap ketika esok menjelang harta benda mereka masih berada ditempat yang semestinya.

Namun apa boleh buat, setiap malam gerombolan pencuri sakti selalu berhasil mencuri sesuatu dari desa.

Penduduk yang khawatir memohon kepada Dewata agar selalu menerangi malam, yang mampu menjaga dan menghalau para pencuri.

Ketika Dewata mengabulkan permintaan mereka. Di langit bergantungan tujuh buah bulan! Waow bayangkan betapa terang dan panasnya pulau Bali.

Siang dan malam tak ada bedanya. Kini penduduk desa bisa bekerja dan beristirahat dengan nyaman dan aman. Sementara di lereng gunung kehidupan para pencuri berubah total.

Para pencuri berupaya keras agar ketujuh bulan berhenti bersinar. Dengan kesaktian masing-masing mereka berusaha menjatuhkan bulan-bulan itu. Mungkin karena usaha mereka, tiba-tiba langit bergoyang, bulan-bulan bergerak tak kearuan. Seolah langit marah! Akhirnya salah satu bulan terjatuh BRUAAAKK!! Menggelinding dan tersangkut di dahan pohon Teep (sejenis jati) yang tumbuh di lereng gunung.

Wah, wah wah para pencuri makin kalang kabut, kini bahkan markas mereka tak terhindar dari cahaya bulan yang terang benderang.
“Bulan sialan, karenamu kita semua kelaparan” teriak para pencuri itu berang.
“Singkirkan saja bulan itu” teriak pencuri yang lain
“Ya betul. Goyangkan saja pohon besar itu” teriak yang lain menimpali

Satu persatu mereka mencoba namun belum ada yang berhasil. Pimpinan pencuri sakti yang merasa tertantang akhirnya turun tangan. Pertama disiramnya bulan itu dengan air seni, ajaib perlahan-lahan cahaya bulan meredup. Setelah itu dengan tenaga yang luar biasa dan dibantu dengan kesaktiannya, didorongnya bulan itu..

Krek..krek…BRUAK…GEDEBUMMM!!!
Dahan pohon patah, bulan besar itu akhirnya terjatuh dan menggelinding dengan hebatnya menuruni lereng gunung ke arah desa. Menerjang apa saja dihadapannya. Semak,, tumbuhan dan hewan yang terlindas menyatu dengan tanah menjadi humus. Bebatuan terpecah menjadi serpihan. Tanah keras dan terjal menjadi gembur seolah habis dibajak beribu-ribu kerbau.

“HORE!!!!… “ teriak para pencuri gembira.

Akhirnya di sebuah tanah lapang bulan yang tidak bercahaya itu terhenti. Para penduduk yang merasa berhutang budi mengabadikan nama desanya dengan nama pajang yang artinya sinar terang. Dan bulan itu diberi nama bulan pejeng.

Para pencuri yang kehilangan semak-semak tempat bersembunyi mulai berpikir..
“Hah apa gunanya kita melenyapkan bulan itu kalo akhirnya tetap saja kita kehilangan markas”
“Aku capek mencuri. Mencuri itu melelahkan”
“fiuh aku juga, belum kita mesti terjaga dimalam hari, berlari menghindari kejaran massa, bersembuyi di siang hari..”
“hmph..sepertinya aku ingin cari pekerjaan lain saja”

demikian obrolan mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka mendapat ide brilian.
“Aha..kenapa tidak kita garap saja tanah gembur ini. Kita bisa menjadikannya lahan menanam tanaman yang bisa dipanen. Dan kita bisa berhenti mencuri”

Akhirnya mereka semua setuju untuk berhenti mencuri dan memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Eit eit eit.. Cerita ini belum selesai …

Enam buah bulan dilangit kini menjadi masalah. Penduduk tetap tidak bisa membedakan siang dan malam, tidak bisa menghitung jam, hari, bulan apalagi tahun. Panen gatot alias gagal total karena petani tidak tahu kapan harus menanam padi, kapan harus memanen dan sebagainya.

Penduduk desa kembali memohon kepada Batara Surya agar dilangit hanya ada satu matahari dan bulan saja. Batara Surya yang adil dan bijaksana akhirnya kembali mengabulkan permintaan mereka.

Diambilnya kelima bulan, dipecahkannya menjadi potongan-potongan kecil, dikembalikannya ke langit malam. Coba tebak apa yang terjadi..

Yup..langit indah yang bertaburan bintang kini senantiasa menghiasi langit malam di kota Bali. Yang orang bilang sepotong surga Indonesia.

BALI… u’ve to wait for me, I’ll coming soon!! (Obsesi terpendam)